(Lanjutan dari Sepak Bola Ria 2)
Sepakbola memang unik dan aneh. Kita dapat terjaga semalam suntuk hanya untuk menonton orang nendang-nendang bola. Ketika stasiun Tv nayangin big match Liga Italia misalnya, para maniak bola dan yang bukan maniak rame-rame nonton. Sayangnya paginya mereka lupa mampir ke masjid atau pergi ke gereja gara-gara ngantuk abis nonton bola. Saya juga seh,.
Itulah sepakbola. Begitu magisnya dia sampai ada pihak-pihak tertentu yang menjadikannya agama, menyaingi googleisme dan scientologi. Di Argentina, Maradona malah punya gereja sendiri, Bill Gates aja nggak punya. Coba bila agama ‘sepakbola’ tersebut masuk ke Indonesia, FPI mungkin kaga berani demo karena bakal dapat lawan dari Jak Mania atau Bonek Mania. 100 pasukan FPI berani mati lawan 10000 Jak+Bonek nekat, siapa menang ya??
Ngomong-ngomong soal sepakbola Indonesia, kayaknya kita emang tidak akan kehabisan kata-kata deh. Kita punya banyak prestasi. Misalnya menahan IMBANG juara Euro 1960, Uni Soviet 0-0 (dalam partai ulang dibantai 6-0 kalo ngga salah). Juara Sea Games 1989 dan 1991 (abis itu ga pernah juara lagi). Pernah menjadi macan Asia, Jepang aja berguru pada kita (sekarang bedanya jauuh), dan lain-lain.
Prestasi lainnya, Liga Indonesia menjadi satu-satunya di dunia di mana polisi masuk ke lapangan dan menangkap pemain gara-gara adu pukul. PSSI juga mencatatkan diri sebagai satu-satunya induk organisasi yang dipimpin dari balik penjara. Trus, apa seh yang kita tidak temukan di Liga Indonesia? Olahraga lain selain sepak bola (tinju, kempo, lempar lembing, menembak, dll) lumrah terjadi di dalam maupun luar lapangan. Ada juga pemain yang dipecat gara-gara pacaran sama artis bohay, katanya penampilannya jadi loyo (kebanyakan ‘digoyang’ seh), dan lain-lain.
Itulah Indonesia. Bagimana dengan di Amerika Selatan? Lebih seru lagi! Di Argentina (dan negara-negara Amsel lainnya) ketika terjadi derby, susananya tidak beda jauh dengan saat Hamas tembak-tembakan sama pasukan Israel. Jalanan sepi, namun stadion dipenuhi manusia yang lapar akan kemenangan, baik di dalam maupun luar lapangan. Yang lain menunggu di rumah, cafe-cafe dan ditaman, mendengar siaran pertandingan dari radio. Mereka hanya berpikir tentang satu hal saja, WAR!. Persiapan mulai dari mencari alat-alat tempur (batu, soda kocok, pisau, pistol rakitan dan asli, dll) sampai persiapan mental waji dilakukan. Menang atau kalah, jangan sampai anda bertemu kelompok suporter lawan kalau tidak ingin kerusuhan Mei 1998 terulang di sana.
Sekali lagi, itulah anehnya sepakbola. Di negara yang secara politik sedang adem ayem tanpa konflik, sepakbola malah menjadi potensi untuk terjadi chaos. Namun yang terjadi di Irak lain lagi. Ketika sedang hot-hotnya perang sektarian antara Sunni dan Syiah, timnas Irak bertanding di final Piala Asia di Jakarta. Para milisi yang sedang perang di Irak pun menghentikan pertikaian mereka sejenak dan menonton pertandingan itu bareng-bareng. Nah lo! Setelah dipastikan menang, mereka pun berpesta dan bareng-bareng lagi, sambil menembak-nembakan AK47 ke udara (mereka nggak tahu kalau tembakan itu membuat 40 orang tewas, kasihan amat). Pasca euforia Piala Asia, mereka pun tembak-tembakan lagi, kali ini nggak diarahin ke udara.
Itulah sepakbola. Kalau kata Karl Marx, sepakbola adalah candu, dia membuat semua orang lupa diri. Lupa akan penderitaan hidup, lupa akan kemiskinannya, lupa dia sudah makan atau belum, lupa sama pacarnya atau istrinya (cerain aja!), lupa kalau pertandingan sudah kelar tapi malah dilanjutin sendiri pake batu, lupa kalau sedang ada krisis ekonomi dunia, Madrid malah membeli Kaka dan Ronaldo. Tapi tidak apa-apa. Tidak ada olahraga seperti sepakbola. Makanya, Lanjutkan! Lebih cepat lebih baik! Hehehe,.